Lompat ke isi utama

Berita

Wujudkan Pilkada Bersih, Bawaslu Solo Ajak Tomas Toga Berantas Isu-Isu Negatif

Ketua Bawaslu Kota Surakarta, Budi Wahyono saat memberikan sambutan dan membuka acara

Ketua Bawaslu Kota Surakarta, Budi Wahyono saat memberikan sambutan dan membuka acara

Bawaslu Surakarta News (BSN). Dalam rangka memerangi isu-isu negatif, hoax dan ujaran kebencian yang semakin meningkat, Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kota Surakarta  menggelar Rapat Koordinasi dengan Stakeholder. Rakor stakeholder ini mengangkat tema “Memberantas Isu Negatif Pada Penyelenggaraan Pemilihan Kepala Daerah Serentak 2024 : Hoax, Sara, dan Black Campaign" di Wijayakusuma Hall, Grand H.A.P Surakarta (17/10/2024).

Seremonial kegiatan diawali dengan laporan Koordinator Sekretariat(Korsek) Bawaslu Kota Surakarta Rafi Uludin Himam.Dalam penyampaian laporannya, Raffi panggilan akrabnya mengatakan, “pada tahapan kampanye ini banyak sekali isu-isu negatif yang tersebar di berbagai media sosial”. Maka dari itu Bawaslu Kota Surakarta mengajak para stakeholder untuk berpartisipasi aktif memberantas isu negatif pada penyelenggaraan pemilihan serentak 2024”.

Foto Bersama Kegiatan Rapat dengan Stakeholder

Acara dibuka oleh Ketua Bawaslu Kota Surakarta, Budi Wahyono. Dalam sambutan pembukaannya Budi mengatakan bahwa Tokoh Agama (Toga) dan Tokoh Masyarakat (Tomas) dan para hadirin yang hadir pada acara ini diharapkan dapat menjadi bagian dalam upaya mengawasi kampanye dan tahapan lainnya di Pilkada 2024 ini. "Kita tahu bahwa pilkada sebenarnya perebutan kekuasaan yang dilegalkan konstitusi. Perebutan kekuasaan diawali dengan perebutan simpati masyarakat yang dilaksanakan dalam tahapan kampanye” ujarnya.

Acara ini dihadiri oleh tokoh agama (toga), tokoh masyarakat, perwakilan ormas, ormas kepemudaan (OKP) seperti kelompok mahasiswa yang tergabung dalam Cipayung seperti GMNI, HMI, PMKRI, GMKI, PMII dan organisasi kemahasiswaan dan pemuda lainnya seperti Pemuda Muhammadiyah, GP. Anshor dan IMM serta KMHDI. Nampak hadir pula para tokoh masyarakat dari Muhammadiyah, Aisyiah, NU, Fatayat NU, FKUB, BAGs, MAKIN, Walubi, PGI dan pimpinan Kevikepan Katholik Surakarta. Sementara itu beberapa organisasi yang konsen terhadap isu-isu hoax hadir sebagai narasumber yaitu Mafindo, Yayasan Kakak, Solopos. Selain dihadiri oleh seluruh jajaran bawaslu, kegiatan ini juga mengundang tim kampanye paslon dan Gakkumdu.

Dalam materinya Erwina, pegiat dari Mafindo menyampaikan bahwa Media sosial adalah media paling murah untuk melakukan kampanye dibandingkan dengan yang lain. Untuk semester satu tahun 2024, jumlah hoax yg ditemukan sebanyak 2119, yang mana angka tersebut sama dengan total yang ditemukan pada tahun 2023. Sasaran populer hoax pemilu adalah para kandidat, pihak penyelenggara, pemerintah, dan para tokoh politik tutur Erwina dalam penyampian materinya. "Perlu kita semua melakukan mitigasi dini. Kalau bertemu konten negatif jangan dihapus saja, tetapi laporkan. Dan Mafindo akan membuat update dua minggu sekali terkait hoax pilkada yang ada," tutup Erwina di akhir sesinya. 

Pemaparan materi dilanjutkan oleh narasumber yang kedua yaitu Shoim dari Yayasan Kakak. Dalam pemaparannya, Shoim mengatakan bahwa grup whatsapp banyak menyebarkan berita hoax yang kemudian menimbulkan masalah atau perseteruan di suatu komunitas maupun keluarga. Ketika sudah berbagi informasi ada banyak hal yang berhubungan dengan pembatasan jika mengganggu keamanan dan kenyamanan. 

Banyak produsen konten di tiktok yang berasal dari generasi z. Tiktok menjadi sumber informasi yang dipercaya masyarakat khususnya anak muda. Shoim menyatakan, "Yayasan kami banyak menemukan hasutan terkait politisasi agama. Menjadi sebuah tantangan bagi kita semua, konten yang beredar itu konten yang baik dan dinetralisir."

Shoim memberikan beberapa tips untuk menghindari hoax dan hasutan kebencian, diantaranya lihat konteks kemudian identifikasi pro dan kontranya, lihat informasi dari perspektif yang berbeda, cek kredibilitas, serta menahan diri untuk tidak menyebarkan hoax. Di akhir acara Shoim mengatakan, "Hak berekspresi anak muda itu harus tetap dipertahankan, tetapi harus dibarengi dengan edukasi. Melalui kegiatan rakor dengan stakeholder ini Bawaslu Surakarta berharap pemilihan serentak tahun 2024 dapat terhindar dari isu-isu negatif seperti hoax, sara dan black campaign.

Penulis : Magang MBKM UNS

Redaksi : Agus Sulistyo