Perkokoh Komitmen Kemitraan, Bawaslu Solo Bersama Forkompinda, KPI, Pers dan Kadin Semarakkan Pentas Ketoprak di RRI Surakarta
|
Surakarta – Dalam rangka memperingati perjalanan sejarah berdirinya Radio Republik Indonesia (RRI), LPP RRI Surakarta menggelar acara bertajuk “Tapak Tilas Hadeging Radio Republik Indonesia” di Auditorium Sarsito Mangunkusumo, RRI Surakarta. Acara yang dikemas dalam bentuk pentas ketoprak ini menghadirkan kolaborasi antara seniman RRI Surakarta dengan seniman muda Kota Solo.
Sejumlah tokoh penting turut hadir sebagai bintang tamu, di antaranya Kepala RRI Surakarta Bambang Dwiana, S.Sos., M.M., Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani, S.S., S.E., MBA, Kepala Kejaksaan Negeri Surakarta Dr. Supriyanto, S.H., M.H., Ketua KADIN Surakarta M. Farid Sunarto, Branch Manager Taspen Surakarta M. Harry Saputra, Komisioner KPID Jawa Tengah Anas Syahirul, serta Komisioner Bawaslu Kota Surakarta Agus Sulistyo.
Kepala RRI Surakarta, Bambang Dwiana menegaskan, “Kegiatan ini merupakan bentuk dedikasi kami dalam melestarikan sejarah dan budaya. Radio bukan hanya media informasi, tetapi juga penjaga nilai-nilai luhur bangsa. Melalui pentas ketoprak ini, kami berharap masyarakat, khususnya generasi muda, dapat lebih memahami peran penting radio dalam sejarah perjuangan bangsa, dari SRV hingga RRI. Sinergi antara RRI, pemerintah daerah, dan berbagai elemen masyarakat adalah kunci untuk terus menguatkan peran radio sebagai media pemersatu bangsa.”
Agus Sulistyo dalam kesempatan tersebut juga menegaskan, “Bawaslu Surakarta sangat mendukung kegiatan yang mengangkat sejarah perjuangan bangsa seperti ini. Pentas ketoprak bukan hanya hiburan, tetapi juga sarana edukasi agar masyarakat, khususnya generasi muda, semakin paham pentingnya menjaga nilai kebangsaan dan demokrasi. Sinergi antar-lembaga seperti RRI, Forkompinda, KPID, Pers, dan KADIN adalah kunci memperkokoh partisipasi masyarakat dalam kehidupan berbangsa.”
Pentas ketoprak ini tak hanya menyuguhkan hiburan, namun juga sarat edukasi sejarah. Cerita yang diangkat berkaitan erat dengan peran penting KGPAA Mangkoenegoro VII dan Gusti Nurul dalam perjalanan lahirnya RRI.
KGPAA Mangkoenegoro VII, pemimpin Mangkunegaran periode 1916–1944, dikenal sebagai tokoh yang memprakarsai berdirinya Solosche Radio Vereeniging (SRV) pada 1 April 1932. SRV kala itu menjadi simbol perlawanan terhadap Belanda, dengan peralatan siaran yang mampu menjangkau hingga negeri Belanda. Dari sinilah lahir bibit tumbuhnya Radio Republik Indonesia (RRI).
Sementara itu, putrinya yang terkenal, Gusti Nurul (Siti Noeroel Kamaril Ngasari Koesoemo Wardhani), dikenal sebagai “Si Kembang Mangkunegaran” yang piawai menari. Pada masa pemerintahan Mangkoenegoro VII, Gusti Nurul pernah diajak menari di hadapan Ratu Wilhelmina di Amsterdam, Belanda. Menariknya, gamelan pengiring tarian tersebut tidak dibawa ke Belanda, melainkan disiarkan langsung dari Solo melalui SRV — sebuah momentum bersejarah yang memperlihatkan peran radio dalam diplomasi budaya.
Pentas ketoprak “Tapak Tilas Hadeging RRI” ini disutradarai oleh Ki Ng. Edy Sulistiono, S.Sn., M.Hum., dengan penata iringan musik Sutkino, A.Md., serta penata laga Wahyu Sapta Pamungkas, S.Sn., dan Themotius Dewa Dharma, S.Sn. Acara ini terbuka gratis untuk masyarakat dan juga disiarkan langsung melalui kanal digital RRI serta Pro 4 RRI Surakarta 95.2 FM.
Melalui kegiatan ini, RRI Surakarta tidak hanya menghadirkan tontonan bernilai seni, tetapi juga memperkuat komitmen menjaga sejarah, budaya, dan sinergi kelembagaan di Kota Surakarta.
Humas Bawaslu Kota Surakarta