Lompat ke isi utama

Berita

Belajar Demokrasi Digital, Bawaslu Solo Dampingi Simulasi E-voting Pemilos SMPN 24

Agus Sulistyo saat memberikan pendidikan demokrasi di SMPN 24 Program Khusus Surakarta

Agus Sulistyo saat memberikan pendidikan demokrasi di SMPN 24 Program Khusus Surakarta

SOLO— Belajar demokrasi tak harus menunggu menjadi pemilih dalam pemilu. Sebanyak 219 siswa SMPN 24 Program Khusus Surakarta mendapat pengalaman berdemokrasi melalui simulasi pemilihan OSIS secara elektronik atau e-voting, Rabu (7/10/2026).

Kegiatan yang berlangsung di aula SMPN 24 Program Khusus ini merupakan bagian dari program kokurikuler Suara Demokrasi. Nampak dari Bawaslu Kota Surakarta hadir sebagai pendamping dan sebagai narasumber.yaitu Agus Sulistyo dan Poppy Kusuma NW

Sebelum mengikuti simulasi e-voting, para siswa diajak mengenal praktik berdemokrasi dalam kehidupan sehari-hari di sekolah. Contoh sederhana berdemokrasi misalnya, dapat dimulai dari suka bermusyawarah, ketika berdiskusi atau dalam keseharian dapat membiasakan diri untuk salaing menghargai pendapat teman, hormat dan santun kepada guru, maupun orang lain, tanpa melihat perbedaan usia.

Siswa juga didorong berani menyampaikan pendapat di kelas secara bertanggung jawab. Di tengah derasnya arus informasi seperti sekarang ini, mereka diingatkan untuk membiasakan diri melakukan cek dan ricek sebelum mempercayai maupun menyebarkan informasi.

“Demokrasi itu sebenarnya bisa dimulai dari hal-hal sederhana di sekolah. Berani berpendapat, menghargai pendapat orang lain, dan tidak mudah menyebarkan informasi yang belum diketahui kebenarannya,” ujar Poppy, panggilan akrab Kordiv PP Bawaslu ini.

Pesan lain yang ditekankan adalah pentingnya menerima apapun hasil dari sebuah proses pemilihan. Perbedaan pilihan dalam pemilihan OSIS misalnya adalah merupakan hal yang wajar dalam demokrasi. Siswa yang menang maupun yang belum terpilih tetap harus saling  menghormati, dan menerima kekalahan tanpa diikuti ujaran kebencian atau permusuhan.

Antusiasme siswa terlihat saat simulasi e-voting dimulai. Dengan memanfaatkan gawai masing-masing, mereka mengikuti proses pemilihan secara elektronik. Penggunaan teknologi membuat pengalaman berdemokrasi terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari mereka sebagai Generasi Z.

Menurut Agus dalam pemaparannya mengatakan kegiatan belajar berdemokrasi dengan santun dimulai dari sekolah ini sekaligus menjadi bagian dari upaya mempersiapkan siswa sebagai pemilih pemula pada Pemilu 2029. Sebagian besar anak-anak yang saat ini duduk dimkelas IX ini diperkirakan akan menggunakan hak pilih untuk pertama kalinya pada pesta demokrasi tahun 2029 mendatang.

“Mereka kita persiapkan menjadi pemilih yang cerdas pada Pemilu 2029. Karena nanti akan menjadi pemilih pemula, Bawaslu siap memberikan coaching dan pendampingan agar mereka memahami hak dan tanggung jawabnya sebagai pemilih,” kata Agus.

Menurut Agus, pendidikan pemilih tidak harus menunggu tahapan pemilu dimulai. Sekolah dapat menjadi ruang strategis untuk membangun kebiasaan berdemokrasi sejak dini melalui pengalaman yang sederhana dan kontekstual.

Ia menilai model Youth Election melalui simulasi e-voting seperti ini dapat dikembangkan sebagai salah satu bentuk pendidikan demokrasi bagi generasi muda untuk mengenal dan praktik demokrasi sejak dini.

“Kegiatan Youth Election seperti ini bisa menjadi role model untuk meningkatkan kualitas pemilih pemula pada masa yang akan datang. Kita ingin mereka tidak hanya tahu cara memilih, tetapi juga memahami nilai-nilai demokrasi sehingga ikut mendukung ekosistem demokrasi next level,” ujar Agus.

Melalui kegiatan ini, harapannya bahwa demokrasi tidak sekadar dipelajari sebagai materi pembelajaran. Para siswa diajak mengalami langsung proses memilih, menghargai perbedaan pilihan, menerima hasil, serta menggunakan teknologi secara bertanggung jawab dalam kehidupan demokrasi. Allahu a’lam bi showab.