Lompat ke isi utama

Berita

Bawaslu Surakarta Ajak Siswa SMP Negeri 24 Berdemokrasi dengan Santun di Era Digital

Anggota Bawaslu Kota Surakarta, Poppy Kusuma, saat memberikan pemahaman mengenai demokrasi, Pemilu, partisipasi masyarakat, hingga tantangan demokrasi di era digital di SMP Negeri 24 Surakarta.

Anggota Bawaslu Kota Surakarta, Poppy Kusuma, S.H., saat memberikan pemahaman mengenai demokrasi, Pemilu, partisipasi masyarakat, hingga tantangan demokrasi di era digital di SMP Negeri 24 Surakarta.

SURAKARTA – Bawaslu Kota Surakarta mengajak generasi muda untuk memahami dan menerapkan nilai-nilai demokrasi sejak dini. Pesan tersebut disampaikan dalam Sosialisasi “Berdemokrasi dengan Santun” yang digelar di Aula SMP Negeri 24 Surakarta, Rabu (7/10/2026).

Kegiatan yang berlangsung pukul 08.00–09.00 WIB tersebut diikuti oleh guru dan siswa SMP Negeri 24 Surakarta. Anggota Bawaslu Kota Surakarta, Poppy Kusuma, S.H., hadir sebagai narasumber untuk memberikan pemahaman mengenai demokrasi, Pemilu, partisipasi masyarakat, hingga tantangan demokrasi di era digital.

Dalam penyampaiannya, Poppy menekankan bahwa demokrasi tidak hanya berkaitan dengan pelaksanaan Pemilu. Demokrasi juga tercermin dalam kehidupan sehari-hari, seperti kemampuan menyampaikan pendapat secara bertanggung jawab, menghargai perbedaan, serta menggunakan hak dan kewajiban secara bijak.

“Demokrasi harus dibangun dari kebiasaan sehari-hari. Menghargai pendapat orang lain, tidak memaksakan kehendak, dan mampu menyampaikan pendapat dengan santun merupakan bagian dari praktik demokrasi,” ujar Poppy.

Dalam materi sosialisasi, peserta diperkenalkan dengan Pemilu dan Pilkada di Indonesia, termasuk pengertian, tujuan, serta lembaga penyelenggara Pemilu. Pemilu dijelaskan sebagai sarana demokratis bagi masyarakat untuk menentukan wakil rakyat maupun pemimpin yang akan menjalankan pemerintahan.

Poppy juga mengajak peserta untuk tidak bersikap apatis terhadap proses demokrasi. Menurutnya, partisipasi masyarakat memiliki peran penting dalam menentukan arah dan masa depan bangsa.

Peserta juga didorong untuk menjadi warga negara yang kritis dan bertanggung jawab. Kesadaran tersebut penting agar masyarakat, termasuk generasi muda, tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi mampu memahami, mempertimbangkan, dan menyikapi informasi secara kritis.

Tantangan demokrasi di era digital turut menjadi perhatian dalam sosialisasi. Peserta diberikan pemahaman mengenai potensi penyebaran hoaks, misinformasi, disinformasi, dan hasutan kebencian melalui media sosial maupun grup percakapan.

Poppy menjelaskan sejumlah ciri hasutan yang perlu diwaspadai, antara lain konten yang menghina, menuduh pihak tertentu sebagai sumber masalah, menggunakan informasi palsu, membenarkan tindakan yang keliru, serta menyebarkan informasi yang berpotensi menimbulkan perpecahan.

Untuk menghadapi kondisi tersebut, peserta diajak membangun kebiasaan berpikir kritis sebelum mempercayai maupun menyebarkan sebuah informasi.

Dalam kesempatan tersebut juga diperkenalkan konsep prebunking dan debunking. Prebunking merupakan upaya proaktif untuk mengantisipasi misinformasi dan disinformasi sebelum menyebar, sedangkan debunking merupakan upaya reaktif melalui pengecekan fakta dan penyampaian hasil pemeriksaan terhadap informasi yang keliru.

Peserta juga diarahkan untuk mengutamakan sumber informasi yang terpercaya, seperti kanal resmi KPU, Bawaslu, DKPP, Mahkamah Konstitusi, organisasi kepemiluan, akun resmi partai politik yang terverifikasi, serta media massa arus utama.

Kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang berlangsung interaktif. Guru dan siswa SMP Negeri 24 Surakarta mengajukan berbagai pertanyaan mengenai demokrasi, Pemilu, penggunaan hak pilih, serta cara menyikapi informasi yang beredar di media sosial.

Antusiasme peserta menunjukkan ketertarikan generasi muda untuk memahami persoalan demokrasi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Narasumber pun mengajak siswa untuk membiasakan diri memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya kepada orang lain.

“Jangan langsung percaya dan jangan langsung membagikan informasi yang kita terima. Biasakan untuk memeriksa sumbernya, membandingkan dengan informasi lain, dan memastikan kebenarannya,” pesan Poppy kepada peserta.

Melalui kegiatan tersebut, Bawaslu Kota Surakarta berharap nilai-nilai demokrasi dapat tumbuh sejak lingkungan sekolah. Generasi muda diharapkan mampu menjadi pribadi yang kritis, terbuka terhadap perbedaan, bertanggung jawab dalam menyampaikan pendapat, serta bijak dalam menggunakan media sosial.

Sosialisasi “Berdemokrasi dengan Santun” kemudian ditutup dengan pesan agar peserta menerapkan sikap demokratis dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah, keluarga, maupun masyarakat.

Bagi Bawaslu Kota Surakarta, membangun demokrasi yang berkualitas tidak hanya dilakukan ketika tahapan Pemilu berlangsung. Membiasakan sikap santun, kritis, dan bertanggung jawab sejak bangku sekolah merupakan bagian dari investasi untuk menghadirkan demokrasi yang bermartabat di masa depan.

Humas Bawaslu Kota Surakarta